Foto Dok. Istimewa (Walikota Pekanbaru H. Agung Nugroho SE MM)
Riaubertuah, Pekanbaru - Dalam satu tahun kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar, Pemerintah Kota Pekanbaru merealisasikan berbagai program strategis sepanjang 2025–2026, mulai dari pembentukan 83 Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS), perbaikan lebih dari 42 kilometer jalan, hingga pelunasan utang daerah Rp467 miliar, yang berdampak langsung pada meningkatnya kualitas pelayanan publik, percepatan pembangunan, dan kepuasan masyarakat.
Pemerintah Kota Pekanbaru menunjukkan arah pembangunan yang semakin terstruktur dalam satu tahun terakhir. Sejumlah kebijakan yang sebelumnya menjadi janji politik kini mulai terealisasi secara bertahap.
Perubahan paling terasa terjadi pada sektor pelayanan publik dan kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah kota memilih fokus pada program yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari warga. Penurunan tarif parkir kendaraan bermotor menjadi salah satu langkah awal yang langsung dirasakan masyarakat. Kebijakan ini memberi dampak pada pengeluaran harian warga, khususnya di kawasan perkotaan yang padat aktivitas.
Di sektor lingkungan, Pemko Pekanbaru menggulirkan Gerakan Serbu Sampah. Program ini diperkuat dengan pembentukan 83 Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) di seluruh kelurahan.
Walikota Pekanbaru, H Agung Nugroho, SE MM menyampaikan Langkah ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi strategi sistemik dalam mengatasi persoalan sampah. Penindakan terhadap pelaku pembuangan sampah ilegal turut dilakukan sebagai bentuk ketegasan pemerintah.
“Penataan kota juga dilakukan melalui penertiban 175 tiang reklame. Kebijakan ini bertujuan memperbaiki estetika kota sekaligus meningkatkan keselamatan ruang publik. Pada aspek pelayanan administrasi, kehadiran Mobil AMAN menjadi inovasi yang mendekatkan layanan kependudukan ke masyarakat. Warga kini tidak lagi harus datang jauh ke kantor untuk mengurus dokumen penting,” jelasnya, Senin, (04/05/2026).

Foto Dok. Istimewa (Walikota Pekanbaru H. Agung Nugroho SE MM Dan Wakil Walikota Pekanbaru H. Markarius Anwar)
Penanganan banjir menjadi salah satu prioritas utama. Pemerintah kota mencatat telah menangani 20 titik rawan banjir melalui normalisasi sungai sepanjang 78,2 kilometer. Selain itu, perbaikan drainase dan daerah aliran sungai (DAS) sepanjang 109,5 kilometer juga dilakukan. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang mengurangi risiko banjir tahunan.
Komitmen terhadap lingkungan hidup diperkuat dengan penanaman 15 ribu pohon. Program ini menjadi bagian dari visi Pekanbaru sebagai Green City yang berkelanjutan. Tidak hanya fokus pada wilayah sendiri, Pemko Pekanbaru juga menunjukkan solidaritas antar daerah. Bantuan diberikan kepada wilayah terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Nilai bantuan tersebut masing-masing mencapai Rp3 miliar dalam bentuk tunai dan Rp1,5 miliar dalam bentuk sembako. Langkah ini menunjukkan peran aktif Pekanbaru dalam solidaritas nasional.
Kemudian kata Agung, Di sektor pendidikan, pemerintah menggulirkan berbagai program strategis. Beasiswa diberikan mulai dari jenjang S1 hingga S3, termasuk bagi hafiz Al-Qur’an.
“Program Zero Putus Sekolah menjadi salah satu langkah konkret dalam mengatasi masalah pendidikan. Sebanyak 1.778 anak berhasil terdata, dan 757 anak di antaranya telah kembali ke bangku sekolah,”kata Walikota.
Pemerintah juga mengatasi persoalan ijazah yang tertahan. Selain itu, bantuan perlengkapan sekolah diberikan untuk memastikan siswa dapat kembali belajar tanpa hambatan. Dalam mendukung wajib belajar 13 tahun, Pemko Pekanbaru menghadirkan satu PAUD di setiap kelurahan. Program ini diintegrasikan dengan layanan posyandu.
Peningkatan kualitas kader posyandu juga dilakukan melalui pelatihan. Langkah ini sekaligus menjadi strategi menekan angka stunting di masa depan. Program kesehatan juga diperkuat dengan pemeriksaan gratis bagi masyarakat. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyasar peserta didik dan kelompok rentan.
“Kelompok tersebut meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia,”paparnya.
Di bidang budaya dan prestasi, Pekanbaru mencatat capaian positif. Kota ini meraih juara 2 MTQ tingkat Provinsi Riau.
Selain itu, pelaksanaan MTQ ke-57 tingkat kota berlangsung sukses. Kegiatan ini memperkuat identitas religius dan budaya masyarakat.
Festival Kreatif Budaya Melayu juga digelar untuk menghidupkan nilai kultural. Event ini sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM lokal.
Gaya hidup sehat turut menjadi perhatian pemerintah. Event Pekanbaru 10K dan peresmian Stadion Mini Gelora Hang Tuah menjadi bukti dukungan terhadap olahraga.
Dan yang paling di prioritaskan pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui program Rp100 juta per RW. Program ini memberi ruang bagi masyarakat untuk menentukan prioritas pembangunan di wilayahnya.
.jpeg)
(Walikota Pekanbaru H. Agung Nugroho SE MM)
Di sisi aparatur, pengangkatan PPPK dan PPPK paruh waktu dilakukan. Tambahan tunjangan kinerja ke-14 juga diberikan untuk meningkatkan motivasi kerja.
Pembangunan infrastruktur menunjukkan capaian signifikan. Lebih dari 42 kilometer jalan telah diperbaiki dalam satu tahun.
Selain itu, 42 halte diremajakan untuk meningkatkan kenyamanan transportasi publik. Lampu penerangan jalan juga dipasang di berbagai titik.
Fasilitas wifi gratis turut dihadirkan untuk mendukung akses digital masyarakat. Langkah ini sejalan dengan upaya menuju kota berbasis teknologi.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, bazaar pangan murah digelar di 50 lokasi. Program ini menjadi solusi di tengah tekanan ekonomi.
Dari sisi tata kelola, capaian besar terlihat pada pelunasan utang daerah. Utang warisan sebesar Rp467 miliar berhasil diselesaikan.
Masuknya investasi baru juga menjadi indikator kepercayaan terhadap Pekanbaru. Proses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) kini dapat diselesaikan hanya dalam satu jam.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan dalam birokrasi. Efisiensi pelayanan menjadi kunci dalam menarik investor.
Dalam aspek keamanan, Pemko Pekanbaru meluncurkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Pekanbaru Aman 112. Program ini bertujuan meningkatkan rasa aman masyarakat.
TRC diharapkan mampu merespons cepat berbagai kondisi darurat. Kehadiran layanan ini memperkuat perlindungan publik.
Di sektor lingkungan, Pekanbaru mulai mengembangkan proyek waste to energy (WTE). Program ini mengubah sampah menjadi energi.
“Langkah ini menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah. Selain mengurangi volume sampah, juga menghasilkan nilai ekonomi,” jelas Agung.
Atas berbagai capaian tersebut, Wali Kota Pekanbaru juga menerima penghargaan nasional. Pekanbaru meraih peringkat dua dalam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026.
“Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan menekan angka kemiskinan dan stunting. Capaian ini menjadi indikator keberhasilan program yang dijalankan,”ucap Agung.
Kemudian dalam kerangka Program Strategis Nasional (PSN), Pekanbaru juga mencatat progres. Program Makan Bergizi Gratis kini didukung 27 dapur umum.
“Setiap dapur mampu menyediakan 3.000 hingga 3.500 porsi per hari. Program ini menjangkau ribuan penerima manfaat. Selain itu Koperasi Merah Putih juga dibentuk di setiap kelurahan. Sebanyak 83 koperasi telah berbadan hukum,”ucap Agung dengan rasa bangga
Digitalisasi pendidikan terus berjalan di sekolah negeri. Salah satunya melalui penggunaan smartboard, Program Sekolah Rakyat masih dalam tahap persiapan fisik. Namun, kegiatan belajar sudah dimulai di Sentra Abiseka.
Upaya pengentasan kemiskinan dilakukan melalui intervensi langsung. Pengembangan UMKM menjadi salah satu strategi utama.
Di sektor perumahan, pembangunan rumah swadaya dilakukan. Sebanyak 42 unit rumah baru dibangun dan 12 unit direhabilitasi.
Sementara itu, pembangunan jaringan gas kota terus berkembang. Saat ini telah tersedia 20 ribu sambungan rumah.
“Secara keseluruhan, capaian satu tahun kepemimpinan ini menunjukkan percepatan pembangunan. Program yang dijalankan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi berdampak nyata,”ujarnya
Namun, tantangan ke depan tetap besar. Konsistensi dan pengawasan menjadi kunci agar program tidak berhenti di tengah jalan. Kritik terhadap implementasi di lapangan juga perlu terus diperhatikan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi faktor penting menjaga kepercayaan publik. Dengan fondasi yang telah dibangun, Pekanbaru memiliki peluang untuk melanjutkan transformasi. Arah menuju kota yang bersih, sehat, dan berdaya saing mulai terlihat.***red/adv
.png)
