Engah Eet VS Iwan Patah.

No comment 199 views
banner 160x600

riaubertuah.id

Riaubertuah, PEKANBARU – Keributan yang berujung aksi saling dorong hingga baku hantam terjadi di ruang rapat Badan Anggaran (Banggar)  dan Lobby Utama Gedung DPRD Provinsi Riau, Kamis (16/07/2026)

Insiden yang melibatkan Wakil Ketua DPRD Riau Parisman Ikhwan alias Iwan Patah dan Anggota DPRD Riau Indra Gunawan alias Engah Eet (Panglime Durian)  itu terekam dalam foto serta video yang kemudian beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan media sosial, memicu kritik terhadap marwah lembaga legislatif.

Peristiwa tersebut disebut bermula dari adu mulut saat rapat Banggar berlangsung di Gedung DPRD Provinsi Riau, Kota Pekanbaru. Ketegangan yang sebelumnya hanya berupa perdebatan dikabarkan berkembang menjadi keributan yang melibatkan sejumlah orang di sekitar kedua anggota dewan tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, hubungan kedua politisi itu belakangan memang disebut kerap diwarnai perbedaan pandangan dalam berbagai pembahasan. Puncaknya terjadi dalam rapat Banggar yang berlangsung pada Kamis siang hingga berujung ricuh.

Dari foto dan video yang beredar, suasana ruang rapat berubah menjadi gaduh. Sejumlah orang terlihat berusaha melerai, sementara beberapa lainnya tampak saling berhadapan di dalam ruangan yang seharusnya menjadi tempat pembahasan anggaran daerah.

Seorang narasumber  yang mengaku berada di lokasi kejadian menyebut keributan berlangsung secara spontan setelah kedua kubu saling berkoordinasi.

"Tiba-tiba saja, mereka saling koordinasi sehingga terjadi keributan, saling serang satu sama lain," ujar narasumber tersebut.

Informasi lain yang berkembang menyebut kedua pihak diduga telah membawa sejumlah orang yang berpostur besar sehingga memunculkan dugaan adanya persiapan menghadapi kemungkinan terjadinya konflik.

Kemudian peristiwa tersebut sontak menjadi perhatian para wartawan   yang sedang bertugas di Gedung DPRD Riau. Dokumentasi berupa foto dan video kemudian menyebar luas melalui berbagai platform digital dan menjadi perbincangan masyarakat.

Di media sosial maupun grup WhatsApp, banyak warga menyampaikan kekecewaan atas insiden tersebut. Salah seorang warga berinisial X menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap seorang wakil rakyat.

"Kalau dilihat dari videonya seperti Yakuza dan Geng Cina (Chinese Dragon), tapi tak seru karena tak ada yang mati. Sudahlah masyarakat tidak percaya dengan pemerintah saat ini, ditambah kejadian ini menjadi makin benci," ujar X dalam sebuah diskusi di grup WhatsApp.

Menurut X, perilaku yang dipertontonkan dalam gedung legislatif justru menyerupai kelompok kriminal dibandingkan lembaga yang seharusnya memperjuangkan aspirasi masyarakat.

"Ditambah Eet  dan Iwan Patah satu partai (Golkar), tak jelas masalahnya apa. Kalau memang gentle silakan bertarung di ring tinju, jadi tahu siapa yang kuat, jangan di gedung milik rakyat ini," katanya.

Insiden tersebut kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai etika dan kedewasaan politik para wakil rakyat. Gedung DPRD merupakan simbol demokrasi sekaligus tempat pembahasan berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Karena itu, setiap dinamika politik semestinya diselesaikan melalui mekanisme musyawarah dan tata tertib lembaga, bukan melalui aksi yang berpotensi mengarah pada kekerasan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat pernyataan resmi dari DPRD Provinsi Riau maupun pihak-pihak yang terlibat terkait kronologi lengkap maupun penyebab pasti keributan tersebut.

Masyarakat kini menunggu langkah pimpinan DPRD Riau untuk memberikan penjelasan terbuka sekaligus mengambil tindakan apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap tata tertib maupun kode etik anggota dewan.

Ditengah gonjang-ganjingnya pemerintahan, peristiwa ini juga menjadi ujian bagi citra DPRD Riau di tengah tuntutan masyarakat agar lembaga legislatif lebih fokus menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan daripada mempertontonkan konflik yang dapat menggerus kepercayaan publik.***red/rfm