Inovasi

Mahasiswa Asal Inhil Tembus Final Nasional UGM Lewat Inovasi COCOBARRIER, Solusi Abrasi dari Limbah Sabut Kelapa

banner 160x600

riaubertuah.id

Riaubertuah, PEKANBARU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Asbul Salam, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, berhasil lolos ke babak final NEIRA Competition 3 tingkat nasional yang akan digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 29–30 Agustus 2026. Keberhasilan tersebut diraih melalui inovasi bertajuk COCOBARRIER, yakni benteng penahan abrasi berbasis limbah sabut kelapa yang dirancang sebagai solusi berkelanjutan untuk wilayah pesisir Indragiri Hilir.

Keberhasilan Asbul Salam menembus final kompetisi nasional menjadi kabar menggembirakan bagi dunia pendidikan sekaligus masyarakat Indragiri Hilir. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang terus mengancam kawasan pesisir, gagasan yang lahir dari pengalaman langsung masyarakat lokal justru mampu menarik perhatian dewan juri di tingkat nasional.

NEIRA Competition 3 merupakan ajang kompetisi esai nasional yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan UGM. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa melalui gagasan inovatif dan berbasis riset.

Dalam ajang tersebut, Asbul Salam mengusung karya berjudul “COCOBARRIER: Inovasi Benteng Penahan Abrasi Berbasis Limbah Sabut Kelapa sebagai Solusi Berkelanjutan di Kabupaten Indragiri Hilir Menuju Indonesia Emas 2045.”

Gagasan tersebut lahir dari kegelisahan Asbul Salam terhadap kondisi pesisir di kampung halamannya. Sebagai putra asli Indragiri Hilir, ia menyaksikan secara langsung bagaimana abrasi pantai terus mengikis wilayah pesisir dan berpotensi mengancam lingkungan, pemukiman, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Fenomena abrasi bukan persoalan baru bagi daerah pesisir di Indragiri Hilir. Namun hingga kini, tantangan tersebut masih membutuhkan solusi yang efektif, terjangkau, dan ramah lingkungan. Kondisi inilah yang mendorong Asbul Salam untuk mencari alternatif yang memanfaatkan potensi daerah sendiri.

Melalui COCOBARRIER, ia menawarkan konsep benteng penahan abrasi yang memanfaatkan limbah sabut kelapa. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Indragiri Hilir dikenal luas sebagai daerah penghasil kelapa terbesar dan mendapat julukan Negeri Seribu Parit, sehingga ketersediaan bahan baku sabut kelapa sangat melimpah.

Menurut konsep yang ditawarkan, pemanfaatan limbah sabut kelapa tidak hanya berpotensi mengurangi dampak abrasi, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah terhadap limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan pendekatan tersebut, COCOBARRIER dirancang sebagai solusi yang lebih ekonomis, mudah diaplikasikan, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Keunggulan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam proses penilaian. Setelah melalui tahapan seleksi dan evaluasi yang ketat, karya Asbul Salam berhasil lolos ke babak final dan bersaing dengan berbagai inovasi terbaik dari mahasiswa seluruh Indonesia.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan daerah tidak selalu harus datang dari luar. Sebaliknya, ide-ide berbasis potensi lokal justru dapat menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi masyarakat.

Keberhasilan Asbul Salam juga menjadi bukti bahwa mahasiswa daerah mampu bersaing di level nasional ketika diberi ruang untuk berinovasi. Di tengah tuntutan pembangunan berkelanjutan, lahirnya gagasan seperti COCOBARRIER menunjukkan pentingnya peran generasi muda dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan.

Babak Final NEIRA Competition 3 akan berlangsung secara langsung di Yogyakarta pada 29–30 Agustus 2026. Pada tahap tersebut, para finalis akan mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri untuk menentukan karya terbaik tingkat nasional.

Sebagai putra daerah, Asbul Salam berharap inovasi yang ia gagas tidak berhenti sebagai karya kompetisi semata. Ia ingin COCOBARRIER mendapat perhatian serta dukungan nyata dari pemerintah daerah dan masyarakat Indragiri Hilir agar dapat dikembangkan sebagai solusi konkret dalam menjaga kawasan pesisir dari ancaman abrasi yang terus berlangsung.

Harapan tersebut menjadi catatan penting. Sebab inovasi yang lahir dari kebutuhan daerah semestinya tidak hanya berhenti di ruang lomba dan seminar. Ketika sebuah gagasan telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional, maka dukungan dari pemangku kepentingan menjadi faktor penentu agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Keberhasilan Asbul Salam membawa nama Indragiri Hilir ke panggung nasional sekaligus menjadi pengingat bahwa daerah memiliki banyak potensi yang masih bisa dikembangkan. Dengan memadukan pengetahuan akademik dan kekayaan sumber daya lokal, inovasi seperti COCOBARRIER berpeluang menjadi solusi nyata bagi masa depan pesisir Indragiri Hilir dan mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.***red/rfm